Kebangkitan dan Realitas Estetika Tradwife

8

Ini dimulai di TikTok. Kemudian meluas ke Pinterest, Instagram, dan YouTube. Tren istri pedagang bukan sekadar hashtag. Ini adalah gaya hidup yang dikurasi yang disiarkan secara real-time.

Seorang pedagang adalah seorang perempuan menikah yang secara aktif memilih peran gender tradisional. Dia menganut gagasan bahwa domain utamanya adalah rumah. Fokusnya? Memanggang roti dari awal. Menjahit gaun. Membesarkan anak-anak. Mengelola rumah tangga tanpa kemudahan modern mendominasi zamannya. Dia berbagi kehidupan ini secara online. Kontennya dipoles. Hangat. Seringkali bernostalgia dengan era pra-feminis.

Istilahnya sendiri adalah portmanteau. Ini menggabungkan “tradisional” dan “istri”. Kebijakan ini mendapatkan daya tarik yang signifikan pada awal pandemi COVID-19. Penguncian memaksa banyak orang kembali ke ruang domestik. Bagi sebagian orang, ini adalah momen untuk mundur. Untuk menemukan kenyamanan dalam rutinitas. Menolak budaya hiruk pikuk yang telah menentukan kehidupan profesional mereka.

Namun gerakan ini sangat memecah belah.

Kritikus melihatnya sebagai penolakan langsung terhadap feminisme. Mereka memandang estetika sebagai pengembalian ke waktu yang lebih sederhana, lebih aman, namun pada akhirnya lebih sedikit waktu luang. Mereka berpendapat bahwa hal ini merusak kemajuan selama puluhan tahun dalam otonomi perempuan dan kemandirian ekonomi. Bagi mereka, tren tersebut terasa performatif. Sebuah keistimewaan yang disamarkan sebagai kesalehan.

Yang lain melawan dengan keras. Mereka berargumen bahwa pilihan inilah yang seharusnya dimungkinkan oleh feminisme. Jika perempuan bisa memperjuangkan haknya untuk bekerja, memimpin, dan mandiri, bukankah seharusnya mereka juga punya hak untuk tinggal di rumah? Untuk memilih penyerahan? Untuk menolak pasar tenaga kerja jika mereka menginginkannya?

“Apakah penindasan jika dia tersenyum saat dia tinggal?”

Perdebatan bukan hanya soal roti. Ini tentang siapa yang mengontrol narasi kehidupan perempuan. Estetika tradwife menawarkan pelarian yang menggoda dari stres modern. Namun hal ini juga membuka pintu bagi pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman mengenai otonomi, ekonomi, dan definisi kebebasan di abad ke-21.

Di manakah letak batas antara pilihan dan paksaan? Algoritme tidak peduli. Itu terus mendorong video.